Sunday, 1 April 2012

Contoh makalah Pengaruh Cuaca Berakibat Batuan Candi Borobudur Terancam Pelapukan


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang  Masalah
Candi Borobudur berdiri kokoh sebagai salah satu keajaiban dunia yang menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia. Usianya telah mencapai lebih dari 13 abad.
Candi borobudur dibangun di tempat terbuka, oleh sebab itu Candi borobudur mengalami berbagai kerusakan. Kerusakan tersebut disebabkan oleh proses-proses alam terutama Pelapukan yang dipengaruhi oleh kondisi alam seperti halnya cuaca.
Atas dasar tersebut diatas, penyusun melakukan penelitian serta melaporkan dengan judul , “Pengaruh Cuaca Berakibat Batuan Candi Borobudur Terancam Pelapukan”
1.2   Perumusan Masalah.
1.         Kerusakan apa yang dialami batuan Candi Borobudur akibat pengaruh Cuaca?
2.         Bagaimana proses pelapukan batuan Candi Borobudur akibat pengaruh Cuaca?
1.3    Tujuan Penelitian.
Penyusunan melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana teori yang sudah diterima dan pelakasanaan sesungguhnya di lapangan yang bertempat di Candi Borobudur Yogyakarta pada tanggal 14 Februari 2011 serta untuk mengetahui sejauh mana kesesuaian teori-teori tersebut dengan prakteknya. Penelitian ini juga bertujuan :
1.      Untuk mengetahui kerusakan apa yang dialami batuan Candi Borobudur akibat pengaruh cuaca.
2.      Untuk mengetahui proses pelapukan batuan Candi Borobudur akibat pengaruh cuaca.
1.4    Angapan Dasar dan Hipotesis.
Penelitian ini dilaksanakan atas pemikiran sebagai berikut:
1.      Batuan yang ada di permukaan bumi pasti mengalami pelapukan sehingga dapat terurai menjadi bentuk yang berbeda dengan batuan asalnya.
2.      Batuan  Candi Borobudur mengalami pelapukan karena kondisi alam, terutama oleh tumbuhan yang hidup pada batuan Candi Borobudur.
Sebagai dugaan awal bahwa kerusakan terjadi karena adanya pelapukan, yang terdiri dari pelapukan mekanik, biologis,kimiawi (Sumaji Sutrijat, 1999, hal 78).
1.5    Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, kami menggunakan beberapa teknik:
·           Metode Observasi adalah pengumpulan data dengan melakukan penelitian secara langsung melakukan pengamatan terhadap candi borobudur.
·           Metode kepustakaan adalah pengumpulan data dengan cara membaca buku – buku panduan yang berkaitan dengan cuaca candi borobudur.
1.6  Sistematika Penyusunan
Dalam menyajikan hasil karya tulis ini ini, maka sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN membahas tentang : latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, anggapan dasar dan hipotesis, teknik pengumpulan data dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORITIS mencangkup tentang : pengertian pelapukan, cuaca dan pelapukan batuan. 
BAB III PEMBAHASAN meliputi tentang : sejarah perbaikan Candi Borobudur, pengaruh cuaca terhadap batuan Candi Borobudur dan proses pelapukan dan penggaraman Batuan Candi Borobudurakibat pengaruh cuaca
BAB IV PENUTUP meliputi tentang : kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
BIODATA PENULIS







BAB II
 TINJAUAN TEORETIS

2.1 Pengertian Pelapukan
Pelapukan adalah proses alterasi dan fragsinasi batuan dan material tanah pada   atau dekat permukaan bumi yang disebabkan karena proses fisik, kimia atau biologi. Hasil dari pelapukan ini merupakan asal (source) dari batuan sedimen dan tanah (soil). Kiranya penting untuk diketahui bahwa proses pelapukan akan menghacurkan batuan atau bahkan melarutkan sebagian dari mineral untuk kemudian menjadi tanah atau diangkut dan diendapkan sebagai batuan sedimen klastik. Sebagian dari mineral mungkin larut secara menyeluruh dan membentuk mineral baru. Inilah sebabnya dalam studi tanah atau batuan klastika mempunyai komposisi yang dapat sangat berbeda dengan batuan asalnya. Komposisi tanah tidak hanya tergantung pada batuan induk (asal) nya, tetapi juga  dipengaruhi oleh alam, intensitas, dan lama (duration) pelapukan dan proses jenis pembentukan tanah itu sendiri. ( Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
2.2  Cuaca
Cuaca adalah keadaan lapisan udara (troposfer) pada saat tertentu dan di wilayah tertentu yang relatife sempit dan pada jangka waktu yang singkat. Cuaca itu terbentuk dari gabungan unsur cuaca dan jangka waktu cuaca. http//:www.pustekkom@2005

2.3  Pelapukan Batuan
  Berdasarkan penyebabnya, pelapukan dibedakan menjadi tiga macam yaitu pelapukan Mekanis, pelapukan Kemis(kimia) dan pelapukan organis(biologi). Adapun perbedaan dari ketiga macam pelapukan tersebut adalah sebagai berikut:
1.         Pelapukan Mekanis
Pelapukan yang disebabkan oleh perubahan fisis. Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun ukurannya.
     Pelapukan ini di sebut juga pelapukan mekanik sebab prosesnya berlangsung secara mekanik. Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu :
1.       Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.
2.       Adapun pembekuan air di dalam batuan.
3.       Berubahnya air garam menjadi kristal. pelapukan yang disebabkan oleh proses fisika .

2.      Pelapukan Kemis(kimia)    
            Pelapukam Kemis adalah proses penghancuran batuan disertai perubahan susunan kimianya.  Gaya kimia mengubah susunan kimia  pada bahan yang dihasilkan. Reaksi kimia mengubah susunan kimia pada bahan yang dihasilkan. Reaksi kimia tersebut meliputi pelarutan, hidrasi, hidrolisis, oksidasai, reduksi, dan karbonisasi (Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud. 1991 . Kimia Tanah. Jakarta:Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud).
3.      Pelapukan Organis
Pelapukan Organis adalah proses penghancuran batuan diakibatkan oleh aktivitas makhluk hidup,baik hewan maupun tumbuhan. (Geografi 1,hal.136)
Organisme sangat berperan dalam pelapukan ini. Beberapa organisme penyebab pelapukan,yaitu sebagai berikut:
a.       Bakteri
Bakteri merupakan salah satu jasad renik yang berbentuk seperti batang, peluru  atau sekrup. Seperti jasad renik lainnya, bakteri termasuk makhluk hidup yang kasat nata. Untuk bisa mengamati dan mengenal bakteri secara seksama diperlukan mikroskop.
b.      Jamur
Jamur bisa disebut fungi atau cendawan. Jamur merupakan organism yang tidak mempunyai klorofil atau bersifat heterotof. Untuk mempertahankan dirinya,jamur hidup sebagai parasit dan saprofit,jamur tidak mempunyai akar, batang dan daun, sehingga disenut tumbuhan thalus.
Jamur berkembang biak secara kaein dan tidak kawin. Perkembangbiakan secara kawin dilakukan dengan cara konjugasi askospora dan basidiospora. Perkembangan dengan cara tidak kawin  dilakukan dengan membentuk spora, membelah diri, fragmentasi dan dengan kondium.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Sejarah Perbaikan Candi Borobudur
Candi Borobudur terletak  di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang,propinsi Jawa Tengah. Daerah ini merupakan daerah pegunungan. Jenis hujan yang terjadi adadlah hujan gunung atau disebut juga hujan orografis. Curah hujan cukup tinggi yaitu diatas 400 mm per tahun sehinggga kelembaban udara sangat tinggi.
Letak bangunan Candi yang berada diatas perbukitan merupakan salah satu pertimbangan yang menguntungkan saatpendirian Candi Borobudur. Candi Borobudur didirikan pada masa kejayaan Syailendra sekitar abad ke-8. Kejayaan ditandai dengan dibangunnya Candi-candi yangterkenal dalam sejarah karena usha-usahanya untuk manjunjung tinggi agama Budha Mahayana.
Setelah menghilang selama berabad-abad pada tahun 1814, Sir Thomas Stamford Rafles, Letnan Gubernur Jendral Inggris menemukan dan membersihkan Candi Borobudur. Pembersihan lebih lanjut dilakukan tahun 1853 oleh Hartman. Pada tahun 1907-1911 Th Van Erp melakukan uasha-usaha perbaikan dan memugar kembali Candi Borobudur untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Kemudian pada tanggal 10 Agustus 1973 prresiden Soeharto meresmikan prasati sebagai tanda dimulainya pemugaran Candi Borobudur. Batu-batu Candi Borobudur dibongkar kemudian dipasang kembali setelah terlebih dahulu dibersihkan dan diawetkan. Pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983.
Bangunan Candi Borobudur terdiri atas patung sejumlah 504 buah, 72 buah stupa besar dengan satu stupa induk sebagai puncak, 1472 buah stupa kecil sebagai relief-relief pada dindingnya. Seluruh bangunan Candi terbuat dari batuan dengan jumlah total sekitar 55.000 m3 batuan. (Candi Borobudur Peninggalan Nenek Moyang, Sutanto).
Struktur bangunan Candi saat ini tidaklah selengkap seperti pada awal didirikan. Beberapa patung, stupa dan relief-relief ada yang hilang beberapa bagiannya. Bagian-bagian yang ada namun terpisah.
3.2  Pengaruh Cuaca Terhadap batuan Candi Borobudur
Cuaca sangat berpengaruh pada proses pelapukan. Batuan Candi Borobudur melapuk karena pengaruh cuaca, terutama hujan. Air hujan sangat berpengaruh pada proses pelapukan karena air hujan mengandung asam. Semakin banyak air hujan merembes maka semakin cepat proses pelapukan.
3.3  Proses Pelapukan dan Penggaraman Batuan Candi Borobudur Akibat Pengaruh Cuaca
Batuan Candi Borobudur adalah batuan beku. Ketahanan batuan beku terhadap kehancuran adalah sama besar dengan tenaga yang dibutuhkan untuk pengkristalan batuan tersebut pada waktu pendinginan magama. Makin besar tenaga untuk pembekuannya, makin besar pula tenaga untuk penghancurannya dan makin stabil batuan tersebut terhadap kehancuran (pelalpukan). Hal itulah yang menyebabkan batuan Candi Borobudur bias bertahan selama berabad-abad. Namun proses alam tetap saja terjadi pada batuan Candi Borobudur. Diantara proses alam yang terjadi adalah pelapukan dan penggaraman.
1.         Pelapukan
             Pelapukan dipengaruhi oleh gaya fisika, kimia dan biologi.(Kimia Tanah, Hal.178) Pelapukan yang terjadi pada batuan Candi Borobudur adalah pelapukan kimia, fisika dan pelapukan biologis. Pelapukan-pelapukan tersebut terjadi secara bersamaan dan saling mendukung. Pelapukan fisika lebih berperan, pelapukan biologis terjadi oleh organism. Pelapukan kimia merupakan penghubung kedua pelapukan tersebut yang akan dibahas dalam penggaraman.
 Penyebab pelapukan batuan Candi Borobudur berasal dari tenaga-tenaga alam yang ada dilingkungan sekitar bangunan Candi Borobudur. Seperti suhu, curah hujan, kelembaban udara, serta organism yang tumbuh disekitarnya.
a.         Suhu
Suhu disekitarnya sangat mempengaruhi suhu batuan. Suhu adalahtingkat panasnya aktifitas molekul udara dalam atmosfer. Batuan terdiri datas berbagai zat yang memiliki koefesien mulai berbeda. Perubahan suhu mengakibatkan zat penyusun yang lain desak-desakan itu dapat mengakibatkan batuan menjadi retak dan pecah.
Suhu rata-rata disekitar Cand Borobudur adalah 28o C. Namun pada siang hari suhu disekitar Candi Borobudur terus berubah-ubah sehingga batuannya sedikit demi edikit berubah dan mengelupas, sebaliknya saat panas terik suhu bisa tiba-tiba berubah  jika turun hujan. Batuan mengerut secara tiba-tiba. Hal ini mengakibatkan struktur batuan Candi Borobudur berubah dan kemudian retak.
b.           Air                       
Ø  Pembentukan air pada celah batuan
Curah hujan disekitar Candi Borobudur cukup tinggi. Air hujan yang tergenang akan masuk ke celah-celah batuan. Pada malam hari suhu berubah menjadi sangat rendah sehingga air pada celah batuan berubah menjadi es, gumpalan e situ menyebabkan struktur batuan Candi Borobudur merenggang. Hal ini terus menerus berlangsung dan mengakibatkan penghancuran.
Ø  Kelembaban Udara
                 Kelembaban air yang cukup tinggi di udara menyebabkan kelembaban udara naik. Karena curah hujan yang cukup tinggi, kelembaban udara di sekitar Candi Borobudur mencapai diatas 60%. Kelembaban udara yang tinggi memungkinkan proses-proses pelapukan terjadi.


c.         Makhluk Hidup
Makhluk hidup sangat berperan dalam proses pelapukan. Makhluk hidup dapat  mempercepet proses pelapukan. Batuan Vulkanik penyusun Candi Borobudur yang kaya akan minerl-mineral penting merupakan tempat yang tepat bagi tumbuhnya  organism saprofit. Mineral-mineral batuan tersebut bereaksi dengan bahan-bahan organik dari makhluk hidup saprofit dan terjadilah pelapukan.
Makhluk hidup atau organisme yang tumbuh pada batuan Candi Borobudur adalah vegetasi-vegetasi perintis yaitu bakteri, alga dan jamur.
1.      Bakteri
Bakteri merupakan tumbuhan yang sangat kecil, sehingga disebut jasad renik. Hidupnya kosmopolit atau dapat tumbuh dimana saja. Bakteri dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan yang lembab dan kadar airnya tinggi.
Pada sudut-sudut batuan Candi Borobudur yang terkena cahaya matahari langsung, bakteri berkembang dengan baik. Cahaya matahari (ultraviolet) dapat memutasikan ADN bakteri sehigga bakteri akan musnah jika terkena cahaya matahari.
Bakteri yang tumbuh pada batuan Candi Borobudur adalah bakteri Fotoautotrof  yang dapat menyintesis senyawa organuk dengan menggunakan energy cahaya matahari tidak langsung. Bakteri tersebut menghasilkan bernagai senyawa asam yang dapat bereaksi dengan oksida bantuan.
Contoh bakteri yang terdapat pada batuan Candi Borobudur adalah :
v  Amonifiry sp,
v  Aceutobacteur, dan
v  Fictobacteur Fixing
2.      Alga
Alga yang dapat hidup pada nbatuan disebut Perifiton.  Alga yang hidup pada batuan Candi Borobudur umumnya adalah alga dari kelas Cyanophyceae (alga biru) dan Chlorophyceae (Alga Hijau). Alga biru merupakan vegetasi perintis. Artinya, alga tersebut merupakan organism yang mampu menghancurkan batuan sehingga memungkinkan tumbuhan lain dapat hidup di daerah tersebut. Alasannya, selain dapat berfotosintesis alga ini mampu hidup pada lingkungan dengan suhu hingga 85o C, sehingga dapat bertahan lama tumbuh pada batuan Candi Borobudur. Selain itu, alga ini juga menghasilkan asam yang merupakan senyawa dalam proses pelapukan batuan.
Spesies alga yang terdapat dalam batuan Candi Borobudur diantaranya :

v  Nostoceae,
v  Gleocapsa,
v  Chlorophyceae bersel satu.
3.          Fungi(Jamur)
  Jamur hidup sebagai saprofit pada batuan Candi Borobudur. Jamur jenis ini memperoleh makanan secara tidak langsung dari makhluk hidup lain. Celah-celah batuan Candi Borobudur yang lembab, kurang cahaya matahari dan banyak mengandung zat-zat organic merupakan daerah yang paling tepat bagi pertumbuhan jamur.
  Beberapa jenis jamur menghasilkan asam yang berpengaruh terhadap batuan Candi Borobudur. Beberapa jenis lain bisa menghancurkan sisa-sisa kotoran yang menempel pada batuan Candi Borobudur seperti daun-daunan atau sisa-sisa makanan yang diubah menjadi mineral-mineral yang memberi peluang tumbuhan lain dapat timbuh.
  Beberapa jamur yang tumbuh pada batuan Candi Borobudur adalah:
o   Aspergilus nigeruan tioghom
o   Aspergilus tlavus link, dan
o   Rhyzopus orrhyzus ficher.


2.         Penggaraman
Penggaraman adalah proses pembentukan garam hasil reaksi antara asam dengan basa  atau asam dan basa dengan oksidannya. Mineral-mineral batuan Candi Borobudur yang berupa oksida asam atau basa akan bereaksi jika terdapat asam atau basa.
Kandungan terbesar batuan andesit adalah oksida silikat. Reaksi penggaraman menyebabkan kadar kation basa banyak. Sebaliknya batuan makin tahan dngan meningkatnyakadar silikat.
Oksida-oksida batuan Candi Borobudur bereaksi dengan asam atau basa yang berasal dari zat organic ataupun zat anorganik.
a.       Air hujan
Air hujan mengandung karbondioksida( CO2), Oksigen ( O2) dan zat-zat asam organic. Asam yang berasal dari air hujan adalah asam karbonat.
       H2O(l) + CO2          H2CO3(aq)
Jika oksida silikat bereaksi dengan air hujan manghasilkan asam silikat.
SiO2(s) + H2O(l)                            CaCO3(s)+ H2O(aq)
Contoh reaksi penggaraman pada batuan Candi Borobudur:
CaO(s) + H 2CO3(aq)                              CaCO3+H2O(l)
Oksida kalsium bereaksi  dengan asam karbonat dari air hujan menghasilkan endapan bikarbonat. Dari proses ini terlihat bahwa batuan yang keras berubah menjadi batuan yang lunak yaitu endapan bikarbonat. Hal ini berarti batuan melapuk.
b.      Bahan Organik
  Bahan organik berpengaruh nyata terhadap batuan. Dalam penguraian bahan organik, selumlah senyawa-senyawa organic dihasilkan dan disintesis. H+ (kation) yang dihasilkan selama penguraian bahan organic akan diikat oleh oksida batuan sehingga mengubah sifat batuan yakni menjadi asam. Contohnya, oksida natrium mengikat H+ yang disintesis oleh vegetasi perintis yangmenyebabkan pH batuan meningkat memungkinkan reaksi-reaksi kimia lainnya terjadi lebih mudah.
 Na2O(s)+ H2SO4                           Na2SO4(aq) + H2O(l)
Penggaraman  menghasilkan warna putih seperti kapur pada permukaan bahan. Garam-garam yang dihasilkan oleh reaksi penggaraman pada Candi Borobudur diantaranya: NaCl, Na2SO4, CaCO3,  MgO dan lain-lain.







BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah penyusun kemukakan, maka dapat ditarik kesimpulan berikut :
1.  Batuan Candi Borobudur mengalami kerusakan karena proses-proses alam seperti pelapukan dan penggaraman.
2. Pelapukan batuan Candi Borobudur berlangsung oleh gaya-gaya alam seperti suhu,cuaca,air dan makhluk hidup.
3.  Organisme lebih berperan pada proses pelapukan Candi Borobudur karena keadaan alam seperti suhu dan kadar air yang mendukung.
4. Perubahan bentuk dan susunan kimia Candi Borobudur menyebabkan batuan lapuk.
4.2 Saran
Untuk tindak lanjut dari kerusakan batuan Candi Borobudur, penyusun menyarankan hal sebagai berikut :
ü  Setiap pengunjung selain berhak untuk menikmati keindahan arsitektur bangunan Candi Borobudur juga berkewajiban untuk menjaga keindahannya.
ü  Semua pihak harus berperan aktif dalam menjaga batuan Candi Borobudur.
ü  Pihak yang berwenang harus berupaya melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya pelapukan batuan Candi Borobodur dengan disesuaikan kondisi cuaca yang sering terjadi di kawasan Candi Borobudur. 



















DAFTAR PUSTAKA

Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud. 1991 . Kimia Tanah. Jakarta:
Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud.
http//:www.pustekkom@2005
Prawihartono, Slamet, H.Drs, dkk.1992. Panduan Belajar Biologi SMA.
Jakarta: Yudistira.
Susanto. 1998. Candi Borobudur Peninggalan Nenek Moyang. Magelang:
Pustaka Jaya.
Syamsuri, M.M  Achmad,  Drs, dan Drs, Moch. Endang Superdi. 2002.
Geografi. Bandung: Lubuk Agung.











BIODATA PENULIS         


global(1)_001.jpg
 
Nama                           : Dimas Adi Prasetia
Tempat Tgl. Lahir       : Bandung, 17 Desember 1994
Jenis kelamin               : Laki-laki
Agama                         : Islam
Kelas                           : XII IPA 2
Alamat                                    : Tambaksari
Misi                             : Menjadikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.



Dwiki.jpg
 
Nama                           : Dwiki Abdurrahman
Tempat Tgl. Lahir       : Ciamis, 3 Maret 1994
Jenis Kelamin              : Laki-laki
Agama                         : Islam
Kelas                           : XII IPA 2
Alamat                                    : Kadupandak
Misi                             : Membuat sesuatu menjadi lebih indah.







Dup(01)~NoEr'yAnZz~(02).jpgNama                           : Enur Aan sopiah
Tempat Tgl. Lahir       : Ciamis, 12 Mei 1994
Jenis Kelamin              : Perempuan
Agama                         : Islam
Kelas                           : XII IPA 2
Alamat                                    : Rancah Girang
Misi                             : Kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya membuat kita mnjadi sukses.



Eros.jpgNama                           : Eros Rosmawati
Tempat Tgl. Lahir       : Ciamis, 30 November 1994
Jenis Kelamin              : Perempuan
Agama                         : Islam
Kelas                           : XII IPA 2
Alamat                                    : Tambaksari
Misi                             : Mencapai kebahagiaan dunnia akhirat.




090920111129.jpgNama                           : Esih Nurhayati
Tempat Tgl. Lahir       : Cilacap, 14 April 1993
Jenis Kelamin              : Perempuan               
Agama                         : Islam
Kelas                           : XII IPA 2
Misi                              : Perhiasan kekayaan orang kaya, harga diri perhiasan orang miskin



^^ahabbik .jpgNama                           : Fani Aulia
Tempat Tgl. Lahir       : Tasikmalaya, 30 Januari 1995
Jenis kelamin               : Perempuan
Agama                         : Islam
Kelas                           : XII IPA 2
Alamat                                    : Situmandala
Misi                             : Mencapai satu obsesi, yaitu Kesuksesan.

No comments:

Post a Comment